Hai, nama saya Reyno. Saya akan bercerita tentang pengalaman pribadi saya yang berkaitan dengan hobi saya, menulis aksara Bali. Pada saat saya kelas VI awal semester 1, saya dipilih untuk ikut lomba nyurat Aksara Bali mewakili sekolah dalam rangka event Hari Anak Nasional pada bulan Juli 2024 lalu. Saya mengikuti lomba tersebut dengan salah satu teman perempuan yang bernama Aulia. Sebelum lomba, kita berdua diajarkan dan dibimbing oleh seorang guru yang bernama Ibu Dayu. Bu Dayu adalah seorang guru Bahasa Bali, jadinya beliaulah yang membina kami berdua.
Pada suatu hari tepatnya di hari Sabtu, 6 Juli 2024 saya dibina atau diajarkan bentuk-bentuk dari Aksara Bali tersebut, agar berbentuk Aksara yang terlihat bagus serta indah dilihat mata. Tetapi, saya tidak bisa membuat aksara Bali seperti yang diajarkan oleh Ibu Dayu. Saya berlatih terus menerus serta pantang menyerah sehingga saya bisa membuat aksara seperti contoh yang diajarkan oleh Ibu Dayu. Saya berlatih di rumah dan di sekolah saat jam istirahat tanpa kenal lelah dan letih. Pada saat jam istirahat, saya dipanggil kembali oleh Ibu Dayu untuk pergi latihan di ruang guru, tetapi bentuk aksara yang saya tulis pun masih berbeda dari contoh yang diberikan. Jujur perasaan saya saat itu sangatlah kecewa. Seusai dengan kegiatan belajar dan latihan di sekolah, biasanya saya mengikuti beberapa kegiatan les ( pelajaran tambahan ). Dalam kegiatan les tersebut pun, biasanya saya tetap mencuri-curi kesempatan untuk melatih kemampuan saya dalam menulis aksara yang baik.
Pada suatu saat ketika saya berlatih di rumah dan mendapatkan bentuk Aksara yang semakin bagus dan saya cukup puas dengan hasilnya. Karena hasil yang saya dapatkan ini berkat dari proses latihan yang saya lakukan secara optimal. Saat hari lomba menyurat aksara Bali sudah dilaksanakan, saya sudah tidak sabar dalam menantikan hari lomba tersebut. Lomba menulis aksara Bali tahun 2024 ini dilaksanakan di Lapangan Lumintang. Saat tiba di lokasi perlombaan, saya terlebih dahulu diwajibkan untuk mendaftar di meja administrasi dan mengambil nomor dada. Peserta yang mengikuti lomba ada banyak sekali kurang lebih sekitar 100 peserta dari seluruh siswa SD yang ada di Kota Denpasar. Saya cukup kaget melihat banyak sekali peserta sekaligus saingan bagi saya, namun hal tersebut tidak membuat saya takut dan gentar. Tak lama lomba menyurat Aksara Bali pun dimulai dan saya mulai menyurat dengan perasaan tenang dan bangga sehingga menunjukkan hasil yang cukup baik. Saat waktu lomba yang tersisa 1 menit saya sudah selesai mengerjakannya. Namun, dalam lomba tersebut, saya belum diberikan kesempatan untuk meraih juara. Saya tidak terlalu memusingkannya karena jujur ini merupakan pertama kalinya saya mengikuti lomba dan saya tetap merasa bangga. Sekian cerita dari saya dan terima kasih.