Perkenalkan nama saya Komang Pradana Jaya Wiguna, umur saya 11 tahun. Dari kecil saya sangat suka dengan kesenian Bali yaitu menabuh dan menari, jadi dapat dikatakan saya memiliki hobi berkesenian. Saya sangat suka menonton pertunjukan seni yang ada di PKB dan di YouTube. Setelah saya melihat pengumuman ada lomba makendang Tunggal. Saya memberanikan diri untuk ikut serta walaupun saya belum terlalu bisa. Saya belajar di rumah, yang diajarkan oleh kakak sepupu saya. Saya pun mendaftar dan saya mengikuti lomba Makendang Tunggal pada tanggal 11 September 2024. Saya mengikuti lomba Makendang Tunggal dengan registrasi terlebih dahulu pukul 08.30 WITA. Tempat saya lomba adalah di SMP Negeri 6 Denpasar. Alasan saya mengikuti lomba tersebut adalah saya mendapat pengalaman baru dan karena saya hobi. Saya menuju SMP Negeri 6 Denpasar, sampai di sana saya menyiapkan sarana persembahyangan seperti canang, dupa, bunga, dan arak berem.
Alasan saya membawa sarana persembahyangan untuk nunas taksu kepada Sang Hyang Widhi Wasa, lalu saya mengaturkan canang di setiap pelinggih yang ada di sana. Saya pun melaksanakan persembahyangan di Padmasana yang ada di SMP Negeri 6 Denpasar. Saya juga melakukan persembahyangan di patung Ganesha dan di patung Dewi Saraswati yang ada di SMP Negeri 6 Denpasar. Setelah sembahyang saya melakukan persiapan untuk memulai lomba. Saya menyetel kendang terlebih dahulu, saya melakukan latihan terlebih dahulu supaya lancer dan tidak lupa di atas panggung. Setelah saya latihan saya menonton terlebih dahulu supaya tahu bagaimana caranya berekspresi pada saat di atas panggung, setelah saya menonton saya membawa kendang saya ke luar ruangan karena ada kendala sedikit di kendang saya yaitu terlalu kencang lalu saya mengisikan sedikit air pada kulit kendang saya. Saya bersiap-siap sambil menunggu no undi saya dipanggil untuk menuju ke atas panggung.
Singkat cerita saya sudah dipanggil ke atas panggung. Saya berdoa sebelum naik ke atas panggung, saya pun naik ke atas panggung dan berharap lombanya berjalan lancer, saya pun memulai lomba dengan memberi kode kepada pengiring. Saya pun berlomba. Setelah selesai berlomba saya kembali ke ruangan terlebih dahulu dan saya diberikan evaluasi terhadap kekurangan saat lomba tadi. Saya pun menunggu hasil juara dari lomba dengan perasaan yang tegang. Saya juga senang bisa mengikuti lomba tersebut, walau ternyata saya tidak mendapat juara, tetapi saya tidak menyerah. Saya akan mencari lomba di tempat lain, di kesempatan selanjutnya, dan akan berlatih lebih giat lagi agar mendapatkan juara.
Terima kasih teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita pengalaman pribadi saya saat lomba Makendang Tunggal. Sampai jumpa.