u3-cover-buku-2024-1-10
LOMBA BUSANA ADAT KE PURA ORANG TUA ANAK

Namaku Daniella, aku sering dipanggil Tulala oleh keluargaku di rumah. Aku masih SD kelas 4. Aku bersekolah di SDN 5 Pedungan, Denpasar Selatan. Karena kedua orang tuaku bekerja di Denpasar, jadi aku bersekolah di Denpasar. Aku aslinya sih dari Gianyar (untuk banjar adatnya) dan di Denpasar aku (Banjar Dinas).

Aku sangat senang nelihat video/ reel TikTok, kalau ada model cantik lagi fashion show, karena aku ingin sekali menjadi seperti mereka, yang bisa dengan anggun berjalan di red carpet. Tapi akau kadang berpikir “ah … enggak mungkin aku seperti mereka, karena aku insecure dengan diriku, merasa tidak percaya diri dengan kulitku yang gelap dan badanku sedikit berisi”, pikirku.

Pagi yang menyenangkan, matahari mulai menampakkan sinarnya, tepatnya di hari Minggu. Tiba-tiba mamaku memanggilku dari ruang tunggu untuk segera datang menghampiri mamaku. Aku segera keluar kamar untuk menemani mamaku.

“Tulala, sini dulu, ada yang Mama mau sampaikan, Mama ada WA (chat) dari sekdes (seketaris desa Gianyar).” kata Mama dari ruang tamu.

“Baik, Ma.” jawabku.

Setelah bertemu dengan mamaku, aku disuruh baca yang dikirim oleh sekdes itu. Di mana isi chatnya itu, “Swastiastu mang (panggilan mamaku di Gianyar) ini mba tu Asti (Sekdes Gianyar), terkait lomba 17 Agustus di Gianyar, mang diminta untuk mewakili Desa Melinggih. Lomba busana adat ke pura orang tua dan anak.”

Di mana aku langsung kaget tidak percaya. “Beneran ini, Ma, kita disuruh mewakili desa, lombanya kapan?” tanyaku kepada Mama.
“Beneran, ngapain Mama bohong, dari 9 desa kita dipilih untuk mewakili desa dan langsung dengan desa lainnya. Lombanya di tanggal 13 Agustus 2024, Nak,” jawab mamaku.
Terlintas di pikiranku, “Apa ini mimpi?” pikiranku. Di mana aku harus mempersiapkan mental untuk lombanya, karena waktu dari di informasikan lombanya tinggal satu minggu. Mamaku langsung mencari dua set kebaya, biar sama dan maching sama aku, mamaku sibuk seharian dengan handponnya, karena mamaku belinya di online shop. Tepat pukul 17.00 sore, mamaku akhirnya dapat dua set kebaya yang sama.
“Tulala, akhirnya Mama dapat dua set kebaya juga,” kata Mama, smabil rebahan.
“Nak, besok pulang kamu sekolah, kita latihan ya biar bisa serasi cara jalannya.” kata mamaku. Dengan semangatku, aku dan mamaku latihan dengan lancar dan aku sudah hafal dengan gerakkannya. “Tinggal nanti di panggung,” kataku yang sangat percaya diri.

Sehari sebelum hari H, aku sempat gugup, tidur malam pun tidak nyenyak. Terlintas terus dipikiranku, “Bagaimana ya besok?” pikirku. Hari itu pun tiba, aku bangun pukul 04.00 pagi, karena pukul 05.00 sudah berangkat ke salon, untuk dandan. Aku ke salon bersama Mama dan diantar papaku. Sampai di salon aku dan mamaku didandani sangat cantik berias pun selesai pukul 07.00. Aku langsung berfoto bersama mamaku karena ini kesempatan yang sangat luar biasa bagiku, tidak lupa unuk berdoa terlebih dahulu.

Lomba akan dimulai pukul 08.00 pagi, jadi setengah jam sebelum acara dimulai, aku sudah harus ada di tempat, karena harus registrasi dan absen dulu. Sampai di lokasi aku mengambil nomor urut 3. Setelah mengambil nomor undian, peserta dipersilakan untuk duduk di tempat yang sudah dipersilakan. Acara pun dimulai. MC sudah mulai untuk memanggil nomor urut 1, aku sempat takut sekali melihat penampilan peserta pertama. Bayangkan saja, Mama dan anaknya cantik, jalannya tidak grogi, pokoknya yang aku lihat sangat sempurna. Karena sangat takut dan grogi.

“Gimana aku ya, apa aku bisa? Aduh bagaimana ini,” ucapku lirih.
“Sudah diam jangan ribut dulu, kamu pasti bisa, Nak.” jawab mamaku sambil memegang tanganku.
“Nomor urut tiga, dipersilakan untuk naik ke atas panggung,” ucap MC, memanggil nomor urutku. Aku pun tampil bersama mamaku, tidak lupa Papa standby dengan HP-nya untuk videoin aku dan Mama.

Setelah tampil aku sangat senang sekali lega rasanya tanpa da rasa khawatir lagi. Karena masih menunggu 6 peserta lainnya. Setelah mereka tampil semua. Saat yang menegangkan pun tiba, di mana juri akan membacakan juara untuk lomba busana adat kepura orang tua dan anak. “Jeng… jeng… jeng, juara 3 diperoleh oleh nomor urut 7, juara 2 diperoleh oleh nomor urut 4, juara 1 diperoleh oleh nomor urut 5. Selamat untuk para pemenang.” akhir kata MC.

Aku merasa sangat sedih dan kecewa, ingin rasanya aku menangis pada saat itu, terlintas dipikiranku, “Apa aku tidak pantas mengikuti lomba seperti ini?” pikirku. Tapi, mamaku sangat sabar memberikanku semangat. Dan kata yang selalu aku ingat dari mamaku. “Menang atau kalah adalah bagian dari perlombaan, jadi hari ini kamu kalah itu tidak apa-apa. Jadikan pengalaman ini di hidupmu dan kalau nanti kamu ada kesempatan lagi, berlatihlah lebih keras dari yang menang agar kita terhindar dari kekalahan.” ucap mamaku.

Dengan kata-kata yang mamaku ucapkan, aku sangat tenang sekali, walaupun aku tidak mendapatkan juara dalam lomba itu, tetapi aku tetap mendapatkan piagam dan pengalaman yang sangat luar biasa dalam hidupku. Inilah pengalaman hidupku, kami akhirnya kembali ke Denpasar. Aku berharap suatu saat nanti aku bisa mengikuti lomba seperti ini lagi dan mendapatkan juara.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait