u3-cover-buku-2024-1-7
HOBI DAN KEHILANGAN SOSOK AYAH

Nama saya Kadek Devi Saras Oktavia. Saya anak kedua dari tiga bersaudara, saudara saya semua perempuan. Di keluarga kami tergolong semua pencinta seni, terutama di keluarga Ayah saya. Ayah saya suka sekali memainkan alat musik terutama gitar dan suka sekali menciptakan lagu-lagu baru. Biasanya Ayah menulis lagu ciptaannya lewat kertas atau direkam lewat HP. Pada suatu hari, Ayah saya pernah bertanya kepada saya, “Apa hobimu, Dek?” kata Ayah saya. Saya pun menjawab yaitu menari. Mengapa saya menjawab menari saat itu, karena saya suka menari dan saya les di Banjar dekat tempat tinggal saya. Saya juga ikut ekstra menari yang diadakan di tempat saya bersekolah.

“Wah… bagus sekali hobimu, Dek! Jangan lupa belajar benyanyi dan menciptakan lagu seperti Ayah, ya.” ujar Ayah. Saya pun tersenyum sambil menganggukkan kepala. Padahal saya tidak terlalu suka menyanyi pada saat itu.

Sedikit cerita tentang ayahku. Ayahku adalah seorang Ayah yang sangat penyayang, namun sedikit galak, galak kalau kami nakal. Dan Ayah saya selalu meluangkan waktunya saat libur berkerja menemani kami belajar di rumah, mengantar atau menjemput sekolah, les menari, ataupun ekstra menari di sekolah. Saya pun termasuk anak yang paling dekat dengan Ayah. Ketika Ayah saya berkerja ke luar Bali, saya selalu menghubungi Ayah saya lewat HP dengan cara video call. Pada suatu hari ketika Ayah saya sudah di Jawa saya setiap jam menghubungi Ayah saya lewat telepon atau video call menanyakan kapan pulang.

“Ayah, kapan pulang?” kata saya.
Ayah menjawab, “Sabar ya, Dek… nanti Ayah pulang, kalau Ayah sudah di rumah kita belajar bernyanyi, sekarang belajar bernyanyi dengan kakak dulu, ya. Tunggu Ayah ya, Dek.”
Saya menjawab, “Ya, Yah…” sambil saya tersenyum.

Beberapa hari kemudian Ayah saya datang dari luar Bali, tak lupa beliau juga membawakan oleh-oleh untuk kami sekeluarga. Yang membuat saya sangat bahagia adalah beliau membawa satu set alat untuk karaoke, kami sangat senang sekali. Setibanya di rumah, kami langsung karaokean bersama Kakak dan Adik, diajari oleh Ayah saya. Ayah saya berkata kepada kami, “Bagaimana dengan sekolah kalian? Apa ada masalah?” tanya Ayah.

Kami menjawab, “Lancar, Yah!”

Saat kami mempunyai alat karaoke, saya menjadi senang sekali bernyanyi dan menjadi hobi saya. Beberapa hari kemudian Ayah pun mulai berkerja lagi, tapi kali ini bekerja di wilayah Bali. Ayah saya pun berangkat, sebelum berangkat Ayah berpesan kepada kami. Ayah berkata, “Jangan nakal bersama Ibu ya, jaga Ibu, belajar yang rajin. Nanti kalau Ayah sudah balik kita jalan-jalan, dan belajar bernyanyi bersama lagi, ya.” Ayah berkata sambil memeluk dan mencium kami.

Dua hari pun berlalu, kami pun berjauhan lagi dengan Ayah. Tetapi, setiap jam saat saya sudah pulang sekolah saya selalu menghubungi Ayah lewat vidio call. Tiba di hari Selasa tanggal 4 Juni 2024 jam 14.00 Ayah tiba-tiba menelepon kami saat sedang belajar bernyanyi. Ayah menanyakan, “Apakah kalian sudah makan?” kata Ayah.

Kami menjawab, “Sudah, Yah, ini kami sedang menyanyi, Yah.”

Ayah sambil tersenyum dan berkata semoga kalian pintar menyanyi seperti Ayah ya dan semoga salah satu dari kalian akan menjadi penyanyi terkenal dan saya menjawab, “Oke, Yah.”

Beberapa menit kemudian kami pun mengakhiri obrolan dan terakhir Ayah bilang, “Ingat rajin-rajin belajar dan latihan menyanyi ya. Jangan lupa jagain Ibu, ya.”

Telepon kami pun terputus dan saya langsung belajar bernyanyi. Tepat pukul 16.00, tiba-tiba HP Ibu saya berbunyi lagi. Kali ini dari nomor yang tidak dikenal, ternyata yang menelpon itu adalah seorang polisi dan polisi itu berkata bahwa Ayah saya mengalami kecelakaan pertamanya Ibu saya tidak percaya karena 2 jam yang lalu kami berbicara lewat HP. Lalu temen Ayah saya berkata memang benar Ayah saya kecelakaan di situ Ibu saya lemas.

Saya melihat Ibu saya menangis dan kami pun ikut menangis. Singkat cerita keluarga besar saya pun pergi ke rumah sakit tempat Ayah saya dirawat. Memang benar, Ayah di sana dirawat dengan kondisi yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Di situ kami sedih, berserah, dan berdoa agar Ayah segera sadar dan bisa berkumpul kembali bersama kami. Ternyata Tuhan berkehendak lain, tepat pukul 23.56 malam Ayah saya menghembuskan napas terakhir. Ayah meninggalkan kami semua, hati saya hancur. Bagaimana kami bisa hidup tanpa Ayah? Siapa yang mengajari kami menyanyi saat pikiran saya kacau, di situ Ibu saya menguatkan saya harus ikhlas.

Di dalam hati kecil, saya berkata, “Saya harus bisa menyanyi, dan menjadi penyanyi terkenal seperti pesan Ayah saat terakhir kita berkomunikasi.” Sejak itu dan sampai sekarang hobi saya bernyanyi dan menari. Dan semoga keinginan Ayah bisa kami wujudkan.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait