Gender wayang adalah alat tradisional yang berasa dari Bali. Musik gender memiliki 10 nada suara sebelah kiri nada yang rendah, sebelah kanan memiliki nada yang lebih tinggi. Gender wayang dimaikan dalam pertunjukkan wayang di Bali. Gender wayang juga digunakan dalam upacara umat Hindu di Bali seperti metatah, upacara ngaben, dan piodalan. Selanjutnya, cara bermain gender ada tehnik tetekep ada nyumbang dan ngisep. Biasanya gender wayang dimainkan 2 orang sampai 4 orang. Gender wayang ini harus dilatih setiap hari. Gender wayang ada gender pemade dan gender kantil. Gender pemade ukurannya lebih besar, kalau gender kantil ukurannya lebih kecil. Untuk nada pemade nadanya lebih rendah, kalau gender kuntil nadanya lebih tinggi. Gender wayang ini boleh dimainkan oleh laki-laki dan perempuan.
Dulu saya sangat senang bermain gender, pertama kali saya diajarkan gender oleh Kakek saya. Dulu saya megender wayang sangat susah sekali, tetapi saya tidak menyerah dan saya terus berlatih dan akhirnya saya bisa. Setelah saya bisa, saya dimasukkan sanggar swasti swara. Setelah saya memasuki sanggar swasti swara, saya mendapat teman baru yang sehobi. Saya megender kelas tiga umur 9 tahun. Umur segini saya diajarkan megender oleh Kakek saya. Setelah saya masuk sanggar swasti swara, saya pun punya teman baru, teman semuanya baik-baik. Ketika saya lupa sama lagu gender, saya dibantu oleh teman saya agar saya ingat kembali. Untuk pelatih saya itu, baik, ramah pokoknya. Saya senang berlatih di sanggar.
Saya pertama kali mengikuti lomba gender di Banjar Kepisah, Pedungan. Perasaan saya saat pertama kali lomba itu grogi. Takut salah pukulan dan takut tidak bisa menampil yang terbaik. Lomba kedua saya lomba di Gerimaya di Kuta. Perasaan saya yang pasti tegang/grogi dan bisa menampilkan yang terbaik. Lomba yang ketiga lomba PSR di kecamatan di SDN 2 Sesetan, di sana saya mendapat juara 2 dan dan lanjut ke tingkat kota, lama-kelamaan grogi dan rasa takut saya mulai hilang. Setelah itu saya terus berlatih karena maju ke tingkat kota dan setelah itu saya pun juara 1. Perasaan saya sangat senang karena saya tidak sia-sia berlatih dengan keras. Saya di tingkat kota berpasangan dengan teman sekolah lain. Dan saya pun berlatih lagi karena ingin lomba di SMPN 6 Denpasar. Setelah itu saya pun mulai lomba. Setelah selesai lomba lagi dan lagi, saya mendapatkan juara 1 gender wayang berpasangan di SMPN 6 Denpasar. Saat itu perasaan saya senang sekali, rasanya itu bangga pada diri sendiri.
Setahun kemudian SMPN 6 Denpasar mengadakan lagi lomba gender wayang berpasangan. Saat itu pun saya berlatih dengan keras agar mendapatkan hasil yang maksimal. Saat menjelang lomba gender wayang berpasangan di SMPN 6 Denpasar. Lagi dan lagi saya mendapatkan juara 1, saya sangat senang, grogi dan rasa takut saya sudah hilang. Dari semua lomba yang saya ikuti, lomba PSR tingkat kota Denpasar merupakan lomba gender yang paling berkesan karena pesertanya bagus-bagus dan permainannya sangat bagus dari semua perserta yang lomba. Saya tidak menyangka kalau saya yang mendapatkan juara 1.
Gender wayang berpasangan merupakan hobi saya dari kecil sampai sekarang. Kita harus tetap melestarikan seni budaya gender wayang ini karena selain sebagai pengiring upacara umat Hindu di Bali juga bisa sebagai keahlian tambahan bagi kita.
Dengan mengikuti lomba-lomba, saya mempunyai banyak pengalaman. Selain itu, dapat juga melatih mental dan rasa percaya diri saya menjadi semakin tumbuh, saya berharap dengan megender saya menjaga dan melestarikan budaya Bali.